Minggu, 29 November 2015

ASI 1000 Hari.



Hari ini kantor saya Dinas Kesehatan Lombok Barat mengadakan sosialisasi pentingnya ASI di salahsatu hotel di kawasan senggigi.. tema sosialiasasi dalam rangkaian Hari Kesehatan Nasional ke 51,  ini disebut "Ashar" singkatan Asi seribu Hari.
Yang mengundang para pejabat dari kepala desa sekabupaten Lombok barat hingga bupati, sosialisasi ini di harapkan membuka kita semua baik  pemerintah maupun masyarakat bahwa ASI adalah gizi terbaik bagi bayi yg tak di kalahkan susu formula manapun.

Kalau sekedar tau ASI itu the best, saya kira semua orang sudah tau.
tapi bagaimana menciptakan kebjiakan pemerintah mendukung ASI itu yg penting.
paling real adanya peraturan negara yg memberi cuti yg lebih lama bagi ibu melahirkan dan menyusui. saat ini cuti bagi ibu melahirkan selama 3 bulan dapat di ambil sebelum atau sesudah melahirkan, sesuai UU Ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 82 ayat 1.

Jika  pemerintah berani membuat UU ketenagakerjaan yg baru dgn memberi cuti yg lebih lama, regenerasi manusia indonesia 20 tahun kedepan akan lebih baik.
Mari berfikir ke depan, bukan hanya hari ini saja. Tapi generasi bangsa indonesia harus berkwalitas, sehat dan semua itu di mulai sejak dini.
Ini bukan saja tentang ASI sejujurnya tapi kecukupan kasihsayang, waktu dan saat saat bersama anak. Jika alasannya dapat di  cover oleh sufor, tapi kasihsayang dan ikatan batin tak terganti pembantu atau uang sekalipun.

Saya kira ibu ibu pegawai sangat dilema pada keadaan meninggalkan anaknya di rumah untuk berangkat bekerja. Pilihan resign atau bertahan demi nafkah menjadi pilihan yg berat.
Alternatif yg saya sarankan adalah dengan cuti potong gaji bagi ibu menyusui, setelah 3 bulan cuti, ia boleh mengambil cuti tambahan 3 bulan mengenapi ASI ekslusif 6 bulan dengan resiko gaji di potong baik 50 atau 30 %. Ini yang pertama
Yang kedua Pemerintah memberikan cuti full 6 bulan tapi bagi anak 1 dan ke 2 saja, utk anak ketiga cuti hanya di berikan 3 bulan. Program ini dapat memdukung KB di indonesia.
Ide lain dengan menjadikan ibu menyusui homework. Yaps, memberikan pekerjaan rumah. Artinya pekerjaan yang sejatinya di  kerjakan di kantor dapat di kerjakan dirumah. Datang ke kantor seminggu sekali dengan membawa pekerjaan rumah, atau di kirim melalui email dan sejenisnya. Ini dilakukan selama 3 bulan cuti tambahan utk menggenapi cuti 6 bulan.

Berikut 10 besar negara di dunia yang memberi cuti melahirkan yang cukup lama untuk penduduknya :

1.Swedia
Swedia merupakan negara yang paling royal untuk urusan cuti melahirkan yang diberikan selama 420 hari dan gaji 80 persen dari gaji normal. Tidak hanya itu saja, sang ibu dapat memperpanjang masa cutinya jika ada kondisi tertentu terjadi pada bayinya, serta pihak ayah juga mendapatkan jatah cuti selama dua bulan.

2.Kroasia
Cuti melahirkan di Kroasia berdurasi satu tahun dengan gaji 100 persen. Cuti ini masih dapat diperpanjang hingga anak berusia 3 tahun. Biasanya pasangan yang baru memiliki anak akan mencairkan uang asuransi dan pensiun untuk membiayai anak yang baru lahir.

3.Denmark
Negara ini ternyata memiliki angka wanita bekerja tertinggi kedua di Eropa dan memiliki tunjangan keluarga sebesar 4,2 persen dari total pendapatan negara. Negara yang disebut sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi ini, memberikan hak cuti melahirkan selama 52 minggu dengan 100 persen gaji. Menariknya, ketika ibu harus mulai kembali bekerja dan bayinya masih berusia 6 bulan ke atas, bisa dititipkan di daycare secara gratis.

4.Serbia
Fasilitas cuti melahirkan yang diberikan di negara ini sama seperti Denmark, yakni selama 52 minggu dengan gaji yang diterima selama cuti sebesar 100 persen. Namun, fasilitas ini tidak banyak dirasakan oleh wanita di Serbia karena hanya 38.3 persen dari mereka yang bekerja di luar rumah. Kebanyakan wanita di sini menjadi ibu rumah tangga.

5.Inggris Raya
Inggris merupakan salah satu negara maju dengan jumlah karyawan pria dan wanita dalam jumlah yang besar. Hak cuti melahirkan yang didapatkan wanita melahirkan di negara ini, yaitu 52 minggu dengan tetap menerima gaji sebesar 90 persen dari gaji normal.

6.Bosnia-Herzegovina
Angka kelahiran di negara ini sangat rendah, hanya 1,25 bayi per wanita. Di negara ini, wanita yang melahirkan diberikan hak tidak bekerja sampai 1 tahun, dengan gaji 82 persen untuk 30 hari pertama dan 75 persen untuk sisanya.

7.Kanada
Wanita melahirkan di Kanada mendapatkan hak cuti selama 52 minggu dan gaji 55 persen untuk 17 minggu pertama dan sisanya dibagi antara ayah dan ibu dengan jumlah yang sama. Namun, ada kewajiban yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum mengajukan cuti melahirkan, di antaranya telah bekerja selama 600 jam dan telah membayar asuransi karyawan selama setahun.

8. Albania
Rentang waktu cuti melahirkan di Albania selama 365 hari. Gaji 80 persen untuk 150 hari dan 50 persen untuk sisanya.

9. Norwegia
Norwegia memberikan cuti melahirkan selama 36-46 minggu untuk pihak ibu, sementara pihak ayah diberikan jatah cuti melahirkan selama 12 minggu. Gaji yang diterima selama cuti 100 persen, namun jika jatah cuti diperpanjang gaji yang diterima sebesar 80 persen.

10. Slovakia
Hak cuti melahirkan di Slowakia diberikan selama 34 minggu. Gaji yang tetap akan diterima selama cuti sebesar 65 persen dari gaji normal.

Well, kalo pemerintah benar-benar serius terhadap program Asi 1000 harinya mesti di dukung pula dengan kebijakan yang nyata dan mendukung para ibu melaksanakan ASI bagi buah hatinya.
Atau kegiatan seminar sosialiasai ASI itu hanya sekedar seremonial saja yang di koarkan tanpa dukungan nyata dari penggagasnya?
               
Beruntung saya saya berkantor di rumah sekaligus polindes. Hal ini dapat memudahkan saya memberikan ASI yang cukup utk anak saya Langit rinjani. Sebuah kemudahan pekerjaan yg harus saya syukuri yang pasti di dambakan banyak wanita pekerja seperti saya.






Rabu, 10 Juni 2015

Pasien Ngeselin




Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tinggal di Polindes/poskesdes artinya saya harus siap bekerja 24 jam, dengan kemungkinan pasien datang brojol sestiap saat. Tak mengenal  jam,hari, tak mengenal bidan sedang letih, atau anak bidan rewel atau suami bidan sedang minta jatah :v

Suatu siang yang panas, seorang wanita datang. Hari ini kemungkinan persalinannya tiba, ia datang di antar suami tercinta. Pada pemeriksaan seminggu lalu saya memintanya agar melakukan USG pada dokter spesialis kandungan karena detak jantung calon bayinya melemah.. bukannya nurut eehh malah bilang “gpp kalo masih ada detak jantung ya masih idup.. (jlebbbb)

Kedatangan selanjutnya ibu itu benar tidak melaksanakan USG, sementara jantung bayi masih tak stabil, kadang terdengar, kadang ilang.

Setelah melakukan pemeriksaan, masih bukaan pertama. Saya memintanya untuk tenang, menyarankan agar berjalan ringan di sekitar poskesdes, karena jam 5 sore saya akan melakukan pemeriksaan ulang memastikan kemajuan bukaan. Saat saya cari jam 5 diruang bersalin.. ehh ibunya gak ada,, di cari di sekitar Poskesdes juga gak ketemu, ngumpet dimana si ibu??
setelah lelah mencari, ternyata pasien itu malah pulang ke rumahnya.. (jjlebbb.)

Saya meminta bibi di rumah agar menjemput dan memanggilnya kembali di Poskesdes. Setelah magrib ia baru datang lagi.. saat saya Tanya kenapa pulang, alasannya sederahana “kan masih bukaan satu bu.. (ini merasa diri lebih pinter pasien deh kayaknya )
Saya jelaskan agar berkoperatif, mengdengar dan mengikuti kata kata saya, jangan melakukan sesutau sesuai pemikiran sendiri, jika ada yang dirasa kurang jelas sebaiknya di tanyakan.

Ternyata proses bukaan pasien itu lambat, hingga pukul 23.30 masih pada bukaan 4. Kemungkinan tengah malam atau subuh proses persalinan akan terjadi. Suami dan anak saya sudah pulas tidur. Semoga proses membantu persalinan esok berjalan lancar.
Bayi lahir dengan selamat,sehat.. ibunya aman,dan tidak ada kejadian persalinan yang mempersulit..
sleep -_-

(NB : saat nerima pasien ini sejujurnya saya sedang menstruasi jadi agak keselll)

Rabu, 20 Mei 2015

Seorang Bidan haruslah memberi contoh dalam ASI Ekslusif untuk anaknya



Bagaimana menciptakan kondisi ASI Ekslusif  6 bulan dapat tercapai di sebuah Desa?
PR yang sampai saat ini cukup sulit saya jawab dan kerjakan sebagai seorang Bidan di Desa. Karena menurut pribadi semua kembali kepada pribadi masing-masing menjadi seorang Ibu. Tingkat pengetahuan Ibu akan pentingnya AE memang menjadi factor utama terhadap kemauan seorang Ibu untuk hanya memberi ASI saja kepada anaknya di usia 6 bulan pertama. 

Dukungan dari keluarga bukan hanya suami, tetapi juga mertua dan lingkungan rumah tangga juga sangat berpengaruh besar dalam suksesnya sebuah proyek menciptakan Generasi manusia yang lebih berkualitas pada puluhan tahun nanti. 

Ujian lain pastilah genjarnya promosi susu formula dari sales yang menyarankan baiknya susu ini dan itu untuk masa tumbuh kembang anak, bisajadi pengetahuan yang tadinya sudah benar menjadi keliru oleh informasi baru dari penjaja susu formula.
Belum lagi factor kesibukan seorang ibu di luar rumah tangga, menjalani karier pegawai di kantor dengan kesibukan yang mengikat, membatasi pertemuan dengan buah hati. Sehingga banyak sekali ibu ibu yang mengalah dan menyerahkan asupan makanan untuk bayinya kepada Susu Sapi yang di packing dalam kotak susu Formula.

Memang tidak mudah untuk berkomitmen menjadi Ibu ASI Eklusif, tetapi itu semua bukan untuk Ibu tetapi buah hati yang akan melalui banyak proses pertumbuhan, dan ASI satu-satunya susu yang tak dapat disaingin manfaat dan kandungan gizinya untuk kesehatan dan pertumbuhan anak. 

Maka mari berjuang menjadi Ibu yang kukuh memberikan hanya ASI kepada sang buah hati, walau puting susu bahkan lecet hingga terluka oleh hisapan kuat bayi, walau kesibukan sana sini, tetapi menjadi seorang ibu yang baik mesti di lalui sejak dini, yaitu dengan menjadi Ibu ASI Eklusif.
Alhamdulillah saya beryukur dapat melewati fase ASI eklusif, dukungan bahkan paksaan suami saya untuk hanya member ASI kepada anak saya makin memberi semangat kepada saya untuk istiqomah dan menjadi pejuang ASI, lagi pula sebagai seorang tenaga kesehatan yang mengerti pentingnya ASI ekslusif adalah sebuah keniscayaan untuk member contoh yg baik kepada masyarakat. 

Jika tak melakukannya maka tak pantas rasanya bersuara untuk mengajak menetapi ASI Eklusif.


Minggu, 12 April 2015

WHO mendukung khitan pada pria

WHO akhirnya mendukung khitan pada pria. Katanya, sel di ujung kelamin pria diduga rentan infeksi HIV. Padahal Islam sudah ratuhan tahun mempraktekkan Organisasi kesehatan Dunia, WHO, dan program Aids PBB mengumumkan, mereka kini mengakui khitan bagi kaum pria secara signifikan bisa melindungi kaum pria heteroseks dari bahaya HIV.
Kedua lembaga ini mengatakan progra
m pengkhitanan bisa menyelamatkan tiga juta jiwa dalam waktu 20 tahun ke depan.
Sebagaimana dikutip BBC, pengkhitanan mulai akan menjadi bagian penting dari sejumlah langkah yang dipromosikan oleh PBB dalam memerangi HIV. Berbagai uji coba baru-baru ini meyakinkan para pakar bahwa seorang pria yang dikhitan, bisa mengurangi resiko HIV lewat penularan seksual heteroseks, sebesar 60 persen. Jadi di negara-negara yang tingkat HIV-nya tinggi dan kaum laki-lakinya tidak disunat, program baru ini bisa bermanfaat sekali.
Para pakar kesehatan ingin menegaskan bahwa pesan mereka adalah, pengkhitanan bisa mengurangi risiko HIV, tetapi bukan mengilangkan risiko.

Masalah budaya
Kepala urusan HIV-AIDS WHO, Kevin de Cock, mengatakan, meski sudah dikhitan, kaum laki-laki harus tetap melindungi diri dengan cara lain seperti memakai kondom dan menghindari perilaku berisiko.
“Khitan laki-laki jangan dilihat sebagai satu-satunya tindakan. Sunat merupakan strategi pencegahan tambahan,” katanya.
“Kaum laki-laki harus sadar bahwa sunat hanyalah perlindungan parsial. Tindakan preventif lain diperlukan, dan kita harus berjaga-jaga agar tindakan preventif lain tidak ditinggalkan,” tambah Kevin de Cock.
Langkah berikutnya adalah bagi masing-masing negara untuk memutuskan bagaimana mereka akan mengkampanyekan sunat, karena masalah ini merupakan masalah budaya yang sensitif. Kebijakan ini mungkin ditolak oleh kelompok masyarakat tertentu. PBB juga ingin mengadakan penelitian lebih lanjut.

Penyakit Menular
Sunat atau khitan dalam bahasa Arab berarti memotong ujung kulit kemaluan atau qulfah. Kulit yang menutupi kepala zakar. Dalam Islam, amalan khitan dimulai zaman Nabi Ibrahim. Artinya, sebelum Barat menemukan manfaatnya, Islam telah ratusan tahun mengamalkannya.
Tahun 2006 lalu, sebuah penelitian menunjukkan, pria yang dikhitan terbukti jarang tertular infeksi melalui hubungan seksual dibanding yang tidak khitan.

Penelitian sebelumnya, khitan mencegah HIV.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Pediatrics terbitan November 2006 itu menunjukkan, khitan ternyata bisa mengurangi resiko tertular dan menyebarkan infeksi sampai sekitar 50 persen, yang menyarankan manfaat besar mengenai sunat bagi bayi yang baru lahir.
Penelitian yang sama tentang khitan dan hubungan dengan penyakit AIDS juga pernah dipaparkan dalam konferensi internasional ke-25 tentang AIDS di Bangkok. Hasilnya sama, khitan bisa mengurangi tingkat HIV (virus penyebab AIDS), sipilis, dan borok pada alat kelamin. [bbc/hid/cha] - Revublika 2013

Kamis, 02 April 2015

Bersyukur Menjadi Bidan



Assalammualaikum,
Menjadi bidan desa berarti kita sudah siap ditempatkan di desa, siap tinggal di Poskesehatan desa (Poskesdes) maupun Polindes. Jam kerja bidan 24 jam sehari, 7 hari seminggu hingga 30 hari sebulan. Hampir tidak ada waktu untuk lengah dan libur, karena pasien melahirkan sering kali datang tiba-tiba diluar jadwal yang tercatat pada kantong persalinan.
Pasien datang tak mengenal jam, kadang pagi, sering tengah malam dan sebagai bidan saya harus siap.
Menjadi bidan adalah sebuah pilihan hidup yg mulia. Membantu perjuangan hidup dan mati manusia, menciptakan generasi baru manusia.


Diberikan fasilitas rumah dinas bersama dengan kantor poskesdes semestinya saya syukuri dengan menjaga dan merawat fasilitas kesehatan itu dengan sebaik-baiknya. Menajaga barang milik Negara secara amanah, mencintai kebersihan tempat kerja dan menjalankan amanah sebagai bidan dengan penuh tanggung jawab. Walau jujur menjadi bidan bukan perkara mudah, selain menolong persalinan dengan sangat hati-hati, beban kerja bidan juga berlipat terutama dalam masalah pencatatan,klaim dan adimistrasi lainnya.
Catatlah apa yg akan anda kerjakan dan kerjakan apa yg anda catat.
Fungsi Catpor (pencatatan dan pelaporan) berguna untuk mengukur sejauh mana kinerja kita sekaligus sebagai bukti pelayanan yg sudah kita berikan.


Bentuk syukur saya sebagai bidan adalah dengan menjaga,merawat dengan sebaik baiknya fasilitas kesehatan yang sudah dipercayakan kepada saya. Bangunan Polindes yang saya tempati sebagai Kantor berdampingan dengan Bangunan rumah dinas, beruntung kantor sekaligus rumah saya, jika dibandingkan mereka yang setiap pagi harus berangkat subuh berpuluh kilometer untuk sampai kantor, maka saya cukup membuka pintu kamar tidur, selangkah,sedetik sudah sampai dikantor.


Maka sudah semestinya saya merawat kantor tersebut dengan sebaik mungkin. Beruntung suami saya seorang yang perhatian, inovatif dan suka bersih bersih. Kami mengeluarkan dana pribadi untuk mengecat ulang kantor Polindes Desa Dasan Tapen, banyak orang tidak percaya kalo perawatan kantor polindes itu berasal dari kocek sendiri, tetapi sejujurnya begitu adanya.
Selaian itu ruang kerja kami hias dengan gambar menarik wallpaper alam, yang membuat nyaman bekerja. Kebersihan yang utama dengan rajin menyapu, mengepel lantai, serta memasang farfum elektronik di tiap ruangan untuk menciptakan wangi aroma therapy yang menyegarkan untuk pasien dan pengunjung Polindes Dasan Tapen.
Kedepannya kami tetap berupaya memperbaiki Taman di depan Polindes Dasan Tapen agar lebih baik, unik, asri. Dengan uang sendiri.. kenapa tidak. 

 
Walau saya tidak tau surat mutasi pindah bisa saya terima kapan saja. Tentu saja tidak ada sia-sia ketika saya merawat Poskesdes tersebut. Meninggalkan kesan yang baik, bangunan yang baik, bersih tentu kepada penerus saya kelak bukanlah sebuah kerugian yang harus saya sesali. Ada saja yang memang mengatakan saya bodoh, habisin duit untuk merawat polindes, kalo besok kamu dipindah, mubazir sekali apa yg kamu lakukan.
Saya hanya tersenyum, tak membalas atau membela diri. Tersenyum itu melegakan, terlebih tidak membalas dengan komentar buruk, ketika diri sebenarnya berhak.

Anggaplah sebagai menyewa rumah, anggap uang yang terpakai sebagai bentuk syukur Alloh swt mengkaruniakan saya kantor yang dekat, pengalihan biaya bensin dan perawatan motor jika bolak balik kantor. Inhsaa Alloh rezeki dari yang Maha Kuasa, dan rezeki tidak melulu berupa uang semata, kesehatan anak saya Langit rinjani, suami yang baik, keluarga besar yg sehat, pasien yg sehat, tidak ada kasus kematian ibu dan anak juga bisa jadi rezeki dari cara lain yg IA karuniakan kepada saya.

Maka mari kawan kawan bidan, kita rawat fasilitas kesehatan yang Pemerintah percayakan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Factor psikologis tempat kerja bersih saya rasa berpengaruh besar dalam menyehatkan pasien.
Semoga Alloh swt selalu melindungi, juga memberkahi profesi kita. Aaamiin



Rabu, 01 April 2015

Sertifikat ASI Ekslusif mendukung ASI Eklusif

Trobosan yang baik untuk meningkatkan ASI Eklusif di tengah maraknya Susu Formula, dan keengganan ibu dalam memberikan ASI saja di 6 bulan usia bayi saya kira dapat menjadi langkah yg sederhana namun cukup berdampak baik.
Formulir Sertifikat ini dapat di download di webside AIMI ASI.org
http://aimi-asi.org/








































Selain itu terdapat juga sertifikat untuk Ayah yg mendukug ASI Ekslusif, dan serrtifkat ASI 2 tahun
kita dapat mendowload sendiri dan mengedit, menambahkan  nama puta putri kita dalam sertifikat tersebut.








Selasa, 03 Februari 2015

"Persalinan Hijau"



Kepala Desa dasan tapen melakukan sebuah terobosan yang sangat baik dalam rangka melibatkan peran serta  masyarakat dalam membangun desa. Terobosan tersebut dikenal dengan program “Persalinan Hijau”. Kegiatan ini berupa penanaman bibit pohon di sepanjang jalan atau pekarangan rumah warga desa Dasan tapen khusus bagi keluarga yang istrinya melahirkan. Satu kelahiran bermakna satu pohon. 






Melalui saya selaku bidan desa,  setiap melakukan Kunjungan Nifas (KN)saya juga  membawa serta 1 bibit pohon Mahoni dalam sebuah polibex plastic yang telah tersedia di kantor desa kepada keluarga yang sedang berbahagia menyambut sang buah hati.
Bapak dan Ibu tersebut di haruskan menanam satu bibit pohon tersebut dan berjanji merawat hingga tanaman itu tumbuh subur, sebagaimana mereka merawat sang buah hati. Selain itu untuk lebih tertibnya pencatatan, sekaligus sebagai bukti kegiatan Persalinan hijau, saya menyertakan surat pernyataan  bersedia melakukan penanaman dan penghijauan tersebut yang di tanda tangani oleh kedua orang tua dari anak tersebut.


Program ini di canangkan oleh Bapak kepala Desa Dasan tapen Alman Faluti sejak wal tahun 2015 dan diharapkan dapat di implementasikan dengan baik oleh segenap masyarakat Desa Dasan Tapen. Selaku Bidan desa tentu saya sangat mendukung kegiatan ini, menurut saya ini adalah sebuah langkah cerdas dalam mengajak serta masyarakat untuk mencintai lingkungan dengan menanam pohon. Dimana kita ketahu pohon sangat berfungsi dalam proses penyerapan polusi udara, menenduhkan dunia dan membantu dalam proses pernapasan yang sejuk bagi manusia. 

  




































Harapan saya  program ini dapat berjalan sukses dan berkesinambungan. Saya akan berupaya berperan aktif mendukung program persalianan hijau tersebut.
Terimakasih.